Menemani kesibukan, keseharian, dan kesendirian


Hari terus berjalan. Tanpa tau entah sampai kapan nyawa ini akan terus menemani berpetualang. Ya, mungkin itulah yang sedang kurasakan. Waktu berjalan begitu cepat, mengalahkan kecepatan getaran plutonium dalam hitungan sepersekian detik tanpa bisa menghasilkan sebuah kemajuan yang berarti. Tetap berdiam di tempat sambil terus bernafas. Jantung masih mengalirkan darah sampai ke bagian otak yang teratas. Namun, kaki ini masih belum beranjak, tenang di tempat ia berpijak.

Setiap hari terasa seperti sama. Bangun. Makan. Kuliah. Nugas. Mandi. Tidur. Begitulah siklus setiap bergantinya pagi. Apakah kalian tidak bosan? Apakah kamu tidak ingin menjadi seorang manusia yang bisa bergerak bebas sesuai dengan batas yang telah tertulis diatas kertas?

Warna. Aku butuh pewarna dalam hidupku. Merah. Hijau. Entahlah, sebuah warna yang bisa membuat hidup menjadi lebih berarti. Tapi, hati-hati dalam mewarnai hidupmu karena hidup tidak memiliki `penghapus` warna yang kuat. Diperlukan usaha yang besar untuk merubah warna dasar yang telah menempel di tubuh kita.

Apa yang aku tulis? Aneh. Tapi itu mengandung sebuah makna dalam kehidupan. Bukan. Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku berbicara tentang sebuah kepercayaan. Sebuah rasa yakin akan adanya sesuatu. Perasaan mantap bahwa pasti ada sebuah pengendali sistem yang rumit ini. Sebuah komputer dikendalikan oleh otaknya yang disebut prosessor. Arus listrik yang besar dihasilkan oleh sebuah generator. Dan semua keajaiban di dunia ini pasti mempunyai seorang konstruktor.

Ya, aku berbicara tentang iman. Hai iman dalam dirimu, bagaimana kabar? Apakah dia selalu dalam kondisi yang selalu mengingat siapa dia sebenarnya? Atau saat ini dia sedang dalam tempat terendah di kastanya? Sapalah imanmu kawan. Dia adalah penuntun hidupmu. Penunjuk jalanmu yang belum lurus. GPS bagi para navigator yang masih bingung diantara derasnya arus.

Kesibukan. Keseharian. Kesendirian. Terkadang mereka menjauhkan kita dari iman. Padahal imanlah yang mendorong kita untuk selalu kuat dalam menjalani kehidupan bersama mereka. Abstrak. Memang tulisan ini abstrak. Tapi semoga kamu bisa menemukan kembali apa yang masih tersembunyi. Tertutupi dibawah kumpulan dosa-dosa yang telah terjadi. Terwarnai oleh tinta yang merusak hati.

Jadi, mari. Kita bersama-sama kembali. Mengingat sebuah jati diri. Aku adalah hamba. Tak ubahnya denganmu. Dan hidup ini ada karena satu tujuan, beribadah kepada tuhanku dan tuhanmu, tuhan kita semua. Lakukan semua kegiatanmu berdasarkan iman yang telah melekat erat di hatimu. Ikhlas. Tawakkal. Hanya mengharap ridhonya. InsyaAllah.

About devezzfil

Hello World. I'm just a college student with normal habits. Go to college, learning, playing, and do others stuff that make me to be a better student. My hobby is surfing on internet, writing, and now i'm learning how to editing a photo. At all, I just same as you, a person who wanna live peacely. Have a good day!
This entry was posted in Story Line and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Menemani kesibukan, keseharian, dan kesendirian

  1. sofinf says:

    nice post ~ bahasanya keren😀

  2. devezzfil says:

    hohoho, thanks btw.🙂

  3. olyvia yulyani says:

    supeeeerrrrr…

  4. arsy says:

    it’s so inspire me,,,,😀
    keep writing

  5. ijja says:

    bagus banget….
    eh,..salam kenal yaaa..

  6. Nandar says:

    gag byk org bisa nulis ini, kuncinya jng pernah merasa puas, dan usahakn jgn jln di tempat. kembangkan terus bakat nulisnya bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s