Nak, Dadaku Sesak!


Nak, Dadaku Sesak!Alhamdulillah, akhirnya bisa duduk kembali di depan laptop ini. Setelah seharian melakukan berbagai aktivitas yang cukup bervariasi. Bagaimana kabarmu malam ini? Harus tetap semangat donk, karena waktu kita di dunia ini cuma sebentar dan sayang bila kita tidak memanfaatkan waktu itu secara maksimal.

Lho? Kenapa judulnya ‘Dadaku Sesak’? *huuft* Ya, sengaja saya mengambil judul karena kata-kata itulah yang selalu terngiang ketika mengingat peristiwa tadi pagi. Ada apa tadi pagi? Check it out.🙂

Mentari pagi menyinari dari sudut jendela rumah makan dimana saya sedang enak menyantap sarapan pagi. Detik demi detik berlalu dan makanan didepan pun semakin menipis. Namun pandangan saya teralihkan oleh suara “Sapu. . . Sapu. . . Uhuk. . . Uhuk. . .” Sontak, saya menoleh ke arah datangnya suara itu.

Uhh. Tak tega rasanya mata ini memandang orang tua itu. Seorang kakek yang kira-kira berumur 65 tahun berdiri di samping sepeda kunonya yang di bagian belakangnya terdapat beberapa puluh sapu ijuk jualannya. Nafas kakek itu tidak teratur, ia menarik nafas kuat-kuat dan segera menghembuskannya dengan cepat. Begitu seterusnya selama beberapa puluh detik.

Mulut kakek itu menganga hendak mengucapkan kata sapu, namun ia tak kuasa. Hanya hembusan nafas “Sa. . . ” dan ia kembali bernafas dengan cepat sambil tangan kirinya mencengkeram dadanya. Ia berkomat-kamit entah apa yang ia ucapkan, mungkin sekelumit do’a bagi sang kuasa.

Ah, saya tidak tega melihat pemandangan pagi itu. Mengingatkan saya kepada almarhum kakek saya yang dulu juga pernah menderita sesak nafas. Sesuap nasi meluncur untuk yang kesekian kalinya ke mulut saya. Segelas teh hangat sudah tersedia di samping piring saya. Hmm, sungguh kenikmatan yang luar biasa bisa merasakan nikmat sehat.

Semua makanan yang saya pesan beserta tehnya telah habis, saya pun membayar dan keluar untuk berangkat ke kampus. Eh, tapi, kakek tadi masih belum beranjak dari tempatnya tadi. Tubuhnya sempoyongan membawa sepedanya, bahkan berkali-kali ia hampir terjatuh. Aku melihat semuanya. Ternyata kakek itu merasakan sakit yang sangat di bagian dadanya. Ia hanya bisa berjalan satu meter, kemudian berhenti untuk bernafas. Lalu berjalan lagi satu meter, dan kembali menghirup nafas. Ya, Allah, hati ini menangis melihatnya. Saya yang seorang mahasiswa kedokteran masih belum bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Dalam hati ini berkata, “Kakek, aku akan belajar lebih giat, akan aku tolong semua orang, i promise”

Tanpa terasa, semeter demi semeter telah dilalui kakek hebat itu. Namun, hati ini masih belum bisa membiarkan kakek itu. Langsung saja, saya menghidupkan motor saya dan menghampiri kakek itu. Beliau terdiam sambil tangan kirinya memengang dadanya dan tangan kanannya mempertahankan sepedanya. Tampak sekali dadanya yang kembang kempis dengan cepat. Ya Allah, dia benar-benar sesak nafas.

Berbagai macam pikiran-pikiran tentang kuliah, nasib sang kakek, sesak nafas, dan banyak lagi berputar-putar di otak saya. Hingga akhirnya, saya memutuskan memberi kakek itu sedikit dari harta yang tak seberapa. Saya berharap, kakek itu berhenti untuk beristirahat dan makan agar sesak nafasnya tidak bertambah parah. Ma’af kek, untuk saat ini mungkin hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya berkata, “Pak, ada rezeki” Dan Subhanallah, kakek itu tersenyum sambil menempelkan uang pemberian saya ke dahinya. Sungguh, rasa bahagia yang tak bisa terucap dengan kata-kata. Saya hanya berdo’a kepada Allah semoga beliau tetap sehat sampai sapu-sapunya terjual habis.

Setelah itu, saya lanjutkan perjalanan ke kampus. Lalu, ya seperti biasa, aktivitas di kampus, belajar, belajar, dan belajar.

Oke, semoga cerita diatas bisa menjadi tulisan yang menambah kemampuan menulis saya. Dan semoga saja bisa menjadi inspirasi bagi semua yang membacanya. Amiiin.🙂

About devezzfil

Hello World. I'm just a college student with normal habits. Go to college, learning, playing, and do others stuff that make me to be a better student. My hobby is surfing on internet, writing, and now i'm learning how to editing a photo. At all, I just same as you, a person who wanna live peacely. Have a good day!
This entry was posted in Story Line. Bookmark the permalink.

One Response to Nak, Dadaku Sesak!

  1. dwi_esti_febri says:

    sptnya prnh ktmu sma kakek yg diceritain😦..skrg uda engga. semoga aja msh dilimpahkan kesehatan dan rizki..
    you have done a great job..smoga smakin bnyk yg pny sifat welas asih sptmu :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s